Aku
tak tau bagaimana harus ku memulai cerita ini. Mungkin pertama ada baiknya aku
memperkanalkan diri, namun mungkin aku tak akan menyebutkan nama asli ku
disini. Aku Dedi Kasiono (jangan berpikir ini nama asli, walaupun ini memang
nama asli), usia ku 20 tahun, dengan perawakan nyaris tampan dan sedikit
melambai.
Ayah
ku pernah mengatakan dulu waktu ibu ku masih mengandung, ibu menginginkan
mempunyai anak perempuan, sehingga waktu aku terlahir ke dunia ini ibu lebih
sering memperlakukan aku sebagai anak perempuan. Hanya Ayah saja yang selalu
mendukung ku sebagai anak laki-laki.
Hingga
saat aku dewasa kini, hidupku masih belum membaik dari hal-hal buruk yang
mengikuti ku. Cinta sulit datang kepada ku, bahkan saat aku meyakini bahwa
cinta telah datang, justru cinta itu tiba-tiba pergi tanpa permisi.
![]() |
| foto diatas memperlihatkan Dedi yang dijauhi teman-temannya |
Setiap
malam aku menangisi keterpurukan yang
terus menyelimuti hari ku,aku bingung, aku galau. Jika aku berkaca, aku rasa
tak ada yang berbeda dari ku dengan teman-teman ku yang lain. Ayah ku juga
mengatakan bahwa tak ada yang berbeda dengan ku, bahkan aku adalah anak yang
istimewa.
Ayah
selalu menghibur ku di saat aku bersedih, dia lah malaikat yang dikirimkan
Tuhan kepada ku selain juga Ibuku. Bahkan saat aku baru saja diputusin dari
pacar ku yang terakhir (aku yakin kalian tau siapa orangnya), Ayah dan Ibuku
lah yang selalu ada disampingku. Semantara itu tak ada satupun teman yang
datang untuk menghiburku.
Teman-teman
ku tak pernah menganggap kehadiranku di dunia ini. Aku selalu dikucilkan, di
caci maki, bahkan mereka tak segan melempar ku dengan batu hanya karena aku
ingin berkumpul dengan mereka. Apa dosa ku Tuhan ? kalau memang aku punya dosa
besar, tolong maafin Dedi ya Allah. Bundadari, bantuin Dedi melewati hari-hari.
Aku
mendamabakan memiliki wanita yang bisa menerima perbedaan ku yang selalu membuatku
dijauhi dari teman-temanku, dan aku berharap cinta itu adalah kamu. Namun aku
harus selalu tegar dan jangan menangis, karena akan selalu ada Ayah ku yang tak
pernah henti mneghiburku dan menghapus air mata ku saat aku bersedih. Terima
kasih Ayah.
*cerita diatas hanyalah fiktif belaka (atau mungkin aja emang nyata),, tapi yang jelas ini hanya untuk humor semata*







